h1

Pengukuran Waktu Kerja dengan Jam Henti (Stopwatch Time Study)


Pengukuran waktu kerja menggunakan jam henti diperkenalkan Frederick W. Taylor pada abad ke-19. Metode ini baik untuk diaplikasikan pada pekerjaan yang singkat dan berulang (repetitive). Dari hasil pengukuran akan diperoleh waktu baku untuk menyelesaikan suatu siklus pekerjaan yang akan dipergunakan sebagai waktu standar penyelesaian suatu pekerjaan bagi semua pekerja yang akan melaksanakan pekerjaan yang sama

Aktivitas pengukuran kerja dengan jam henti umumnya diaplikasikan pada industri manufakturing yang memiliki karakteristik kerja yang berulang, terspesifikasi jelas, dan menghasilkan output yang relatif sama.

a. Waktu Siklus dan Jumlah Pengamatan

Waktu yang diperlukan untuk melaksanakan elemen-elemen kerja pada umumnya sedikit berbeda dari siklus ke siklus kerja sekalipun operator bekerja pada kecepatan normal dan seragam, setiap elemen dalam siklus yang berbeda tidak selalu bisa diselesaikan dalam waktu yang sama.

Aktivitas pengukuran kerja pada dasarnya merupakan proses sampling. Konsekuensinya adalah semakin besar jumlah siklus kerja diukur maka akan semakin mendekati kebenaran akan data waktu yang diperoleh. Konsistensi dari hasil pengukuran dan pembacaan waktu merupakan hal yang sangat diperlukan dalam proses pengukuran kerja. Semakin kecil variasi data yang ada, jumlah pengukuran yang harus dilakukan akan semakin sedikit.

Waktu siklus dihitung dengan menggunakan rumus:

1 Keterangan:

x = waktu siklus

x = waktu pengamatan

N = jumlah pengamatan yang dilakukan

Untuk mengetahui apakah jumlah pengamatan yang dilakukan sudah memenuhi syarat (mencukupi) atau masih kurang dapat diketahui dengan rumus:

3Keterangan:

N’ = jumlah pengamatan yang seharusnya dilakukan

s = tingkat kepercayaan

k = konstanta

x = waktu pengamatan

N = jumlah pengamatan yang telah dilakukan

Nilai k ditentukan dengan ketentuan:

a) Jika tingkat kepercayaan 99% maka k = 3

b) Jika tingkat kepercayaan 95% maka k = 2

c) Jika tingkat kepercayaan 68% maka k = 1

b. Keseragaman Data

Test keseragaman data perlu dilakukan sebelum data yang diperoleh ditetapkan waktu standar (waktu normal). Test keseragaman data dapat menggunakan peta kontrol (control chart). Apabila terdapat data yang di atas BKA atau di bawah BKB maka data tersebut perlu dibuang.

BKA = x + 3SD dan BKB = x – 3SD

Keterangan:

BKA = Batas Kontrol Atas atau Upper Control Limit (UCL)

BKB = Batas Kontrol Bawah atau Lower Control Limit (LCL)

SD = Standar Deviasi

c. Performance Rating (Rating Factor)

Di dalam praktek pengukuran kerja, metode penetapan rating performance kerja operator didasarkan pada satu faktor tunggal yaitu operator speed, space atau tempo. Sistem ini dikenal sebagai perfomance rating atau speed rating.

Rating faktor ini umumnya dinyatakan dalam persentase (%) atau angka desimal, di mana performance kerja normal sama dengan 100% atau 1,00. Penetapan besar kecilnya angka ditetapkan oleh sendiri oleh time study analist.

d. Waktu Normal

Rating faktor pada dasarnya digunakan untuk menormalkan waktu kerja yang diperoleh dari pengukuran kerja akibat kecepatan kerja operator yang berbeda-beda. Dengan memperhitungkan besarnya nilai rating faktor, maka waktu normal dapat diperoleh dengan cara:

e. Waktu Longgar (Allowance) dan Waktu Baku (Standard Time)

Waktu normal semata-mata menunjukkan bahwa seorang operator yang berkualifikasi baik akan bekerja menyelesaikan pekerjaan pada kecepatan kerja yang normal. Pada kenyataannya operator tidak akan mampu bekerja secara terus-menerus tanpa adanya interupsi. Operator akan sering menghentikan kerja dan membutuhkan waktu-waktu khusus untuk keperluan seperti personal needs, istirahat melepas lelah dan alasan-alasan lain di luar kontrolnya.

Waktu longgar yang dibutuhkan dan akan menginterupsi proses produksi ini diklasifikasikan menjadi personal allowance, fatigue allowance, dan delay allowance.

Waktu baku atau waktu standar adalah waktu normal yang telah memperhitungkan waktu-waktu longgar atau allowance tersebut.

2 komentar

  1. iya dooonkk….


  2. kalo jam henti harus monoton ya?
    jika harus monoton kan pengamatn juga memiliki kelonggaran sendiri, jadi bagaimana kalo pengamatan harus melakukan kebutuhan pribadi saat pengamatan. apa pengamatan tersebut harus dibatalkan?



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.